“Megengan”
Kebudayaan Islam Mojokerto
Oleh:
Ummi Fatimatus Zuhdiyah

Kebudayaan Islam merupakan hasil pemikiran, kebudayaan
dan adat istiadat yang bersal dari sekelompok atau golongan yang beragama Islam
yang menjadikan hal atau suatu benda menjadi cir khas atau pembeda Islam dengan
yang lainnya. Kebudayaan Islam banyak sekali tersebar diseleuruh penjuru dunia
tanpa terkecuali, seperti adanya Blue
Mosque (Turki), Seville Catherdal
(Sevile sekitaran wilayah Spanyol) yang dulunya adalah Masjid Al Mohad, Alcazar Palace atau Al Qast. Selain contoh yang disebutkan tadi juga terdapat masjid
yang cukup terkenal karena keindahanya di Rusia yaitu masjid Qulsharif yang terletak di daerah Kazan.
Salah satu kebudayaan Islam lainnya yaitu Kota Tua Bulgar yang menjadi tempat
kelahiran Islam di Tatatstan. Yunani
juga memiliki bukti kebudayaan Islam yaitu Pathernon
di Athena yang dulunya pernah menjadi masjid serta di Thrace banyak terlihat
arsitektur bangunan Yunani-Islam. Yunani disebut oleh DInasti Utsmani dengan
Tourkokratia, sehinggabanyak sekali peninggal Ottoman di Yunani.
Indonesia sendiri sebagai Negara dengan jumlah
penduduk Muslim terbanyak didunia tentunya memiliki banyak sekali kebudayaan
bernafaskan Islam, seperti Halal Bihalal (tradisi yang dilakukan oleh
masyarakat Muslim Indonesia pada saat Hari Raya Idul Fitri yaitu dengan
berkunjung ke rumah sanak saudara, tetangga dan teman untuk sekedar meminta
maaf dan menyambung tali silaturahmi yang biasanya dilakukan dengan prinsip
yang muda mendatangi yang lebih tua), Kupatan (tradisi di Pulau Jawa7 hari
setelah hari raya Idul Fitri dengan cara memeacak ketupat dan membagikannya
kepada tetangga dengan tujuan bersedekah), Sekaten ( tradisi di Pulau Jawa yang
merupakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadaka setiap tanggal
5 bulan Mulud di Alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta, sumber:Wikipedia). Contoh lainnya dari kebudayaan Islam di
Indonesia yaitu Kerobok Maulid ( tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW d
pada tanggal 12 Rabiul Awwal yang berlangsung dikawasan kedaton kutai), serta
ada pula acara besar Grebek Besar ( upacara tradisional tepat pada tanggal 10
Dzulhijjah atau pada saat perayaan Idul Adha di Demak atau lebih tepatnya di
masjid Agung Demak), selain itu ada pula kebudayaan Jawa yang berunsurka Islam yaitu Rabu Wekasan ( sebuah nama di
hari rabu terakhir dibulan Shafar pada kalender Jawa yangditandai dengan
serangkaian upacara adat Safaran dan bertujuan tolak balak) dan Megengan
(sebuah tradisi yang dilakuakn sebelum datangnya bulan Ramadhan)
Megengan sendiri merupakan sebuah tradisi yang ada
dipulau Jawa, khususnya didaerah Mojokerto yang dilakukan 1 hari sebelum
datangnya bulan suci Ramadhan dengan cara berkunjung ke makam sanak suadara dan
membagikan berkat sedekah. Magengan sendiri berasal dari bahasa Jawa yaitu “Mageng” yang bererti Menahan(ngempet) yang artinya mengingatkan
kepada masyarakat sekitar bahwa senetar lagi bulan puasa tiba.
Sebelum kedatangan wali songo di Pulau Jawa, tradisi Megengan sudah ada semenjak
pemerintahan Majapahit yakni Ruwahan ( bersal dari kata “Ruwah” yakni bulan ketujuh pada penanggalan Jawa. Kata Ruwah memiliki makna “Arwah” yang
berarti roh leluhur nenek moyang). Setelah kedatangan Wali Songo di pulau Jawa,
tradisi pelan-pelan diubah dengan
pelaksanaan dan nama yang berbeda. Diyakini bahawa Sunan Kalijaga-lah yang
memeperkenalkan tradisi ini. Pada saat itu Sunan Kalijaga berdakwah pada
masyarakat Jawa pedalaman dengan menggunakan metode akulturasi budaya, yang
saat itu Magengan adalah pembelokan adat local, yang dahulu masih terdapat
tradisi sesajen dalam ruwah-an yang dipersiapkan khusus untuk
arwah dan tidak boleh dimakan. Perlahan tradisi tersebut dirubah oleh Sunan
Kalijaga dengan adar Megengan yaitu
sesajen diubah menjadi sedekah makanan
yang akan dibagikan dan dimakan bersama.
Di Mojokerto sendiri tradisi ini selalu dibarengi
dengan berziarah kemakam sanak saudara pada pagi, siang, atau sore hari
sebelumm datangnya bulan suci Ramadhan. Kemudian dilanjtkan dengan Kenduren
(istilah Jawa, Istilah Idonesia: Kenduri) pada sore harinya yang diadakan
secara bergantian pada setiap rumah atau bisa juga membawa berkat (makanan yang
akan dikendurikan) tersebut ke Masjid.
Tradisi Megengan merupakan tradisidi Pulau Jawa yang
tidak ditemukan didaerah lain. Tradisi ini memiliki pesan yag dapat diambil
diantaranya menjaga tali silaturahmi agar tetap harmonis dengan masyrakat
sekitar, keteghan dalam menjaga tradisi, keteguhan dalam menjaga warisan budaya
serta menghormato jasa para leluhur melaui do’a-do’a.
0 komentar:
Post a Comment